
By Republika Newsroom
Jumat, 16 Oktober 2009 pukul 13:02:00
BOGOR–Bibit unggul ternak lokal Indonesia disinyalir sudah dikembangbiakkan oleh beberapa negara asing, di antaranya adalah sapi Bali yang dikembangkan oleh Malaysia di Negara Bagian Sabah. “Saya melihat dengan mata kepala sendiri, di Sabah sapi Bali dikembangbiakkan. Itu jenis sapi yang sama dengan sapi yang dikembangkan di Nusa Penida (Bali),” kata Dekan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Ir Luki Abdullah, MSc kepada ANTARA di Bogor, Jumat (16/10).
Selain Malaysia, Australia juga disinyalir mulai mengembangbiakkan bibit sapi Sumba Ongol. Bibit-bibit ternak yang merupakan kekayaan sumberdaya genetik asli Indonesia tersebut diduga bisa sampai ke tangan pengusaha Malaysia dan Australia melalui pebisnis lokal.
Luki menyayangkan hal tersebut, karena sesuai aturan yang berlaku unit, daerah atau swasta dilarang mengekspor bibit ternak lokal. Praktik ini, lanjut dia, muncul karena selama ini negara-negara asing melihat potensi plasma nutfah Indonesia yang sangat berlimpah.
Untuk menindaklanjuti temuan tersebut, Luki meminta Pemerintah untuk segera melakukan investigasi dengan mengirimkan tim ahli ke negara-negara tersebut, untuk membuktikan kebenarannya.
Disamping itu, Pemerintah juga harus segera melakukan promosi bibit lokal sebelum negara lain mengklaim jenis tersebut sebagai kekayaan asli mereka. “Saya menduga, bibit ternak tersebut dikawinkan dengan jenis lain, kemudian hasil ‘cross breed’ atau silangan itu yang mereka klaim sebagai bibit unggul mereka,” kata dia.
Pemerintah, lanjut dia, harus membantu pemerintah daerah untuk mengembangkan bibit lokal, melokalisasi dan mengelolanya dengan maksimal agar bibit-bibit unggul tersebut bisa berkembang menjadi bibit unggul nasional, serta memantau distribusinya.
“Indonesia harus segera memulai proyek ‘national breed’. Ini hal mendesak, tidak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara rutin tetapi perlu terobosan, fokus untuk peningkatan sumberdaya genetik nasional,” tegas dia.
Selain sapi Bali, Indonesia memiliki beberapa jenis sapi unggul seperti sapi Madura, Sumba Ongol, Aceh, serta sapi dari pesisir selatan. “Yang menyedihkan, sapi-sapi unggul tersebut tidak dikembangbiakkan sebagaimana mestinya, sehingga di Aceh dan pesisir selatan, ukuran tubuhnya bahkan semakin mengecil,” kata dia.
Menurut Luki, bibit ternak lokal secara genetik mempunyai potensi produksi yang bagus bahkan dalam kondisi lingkungan yang minimal, meskipun dari segi bobot tubuh memang sapi lokal hanya sekitar 80 persen dari sapi impor. Untuk mencapai target swasembada daging pada 2014, lanjut dia, Indonesia harus lebih fokus pada pemanfaatan bibit lokal yang bisa dijamin keberlanjutan populasinya.
Mengenai insentif bagi peternak yang mengembangkan bibit lokal, Luki mengatakan bahwa skim Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS) dengan bunga lima persen sebenarnya sudah cukup bagus. Namun tidak semua peternak mempunyai kemampuan akses untuk memperoleh kredit tersebut.
“Pengembangan bibit lokal tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada peternak, harus ada campur tangan pemerintah. Ini investasi jangka panjang,” papar Luki.
Pihak akademisi juga siap jika diminta untuk membantu pengembangan bibit lokal tersebut, karena umumnya perguruan tinggi juga memiliki fasilitas seperti kandang. “IPB juga memiliki fasilitas. Cuma kita selama ini tidak mempunyai dana rutin,” ungkap dia. ant/itz






hahahahah………. kalau yang baca orang malaysia gimana ya perasaan mereka??? marah ga ya??? aq pengen liat mimik mukanya mereka… hahahaha……..
Buang sampah di rumah bu dedeh……
Akh Cape dech…….
moga aja ngak marah, tapi sadar lah…